Okt
31
2014
Today

Cuaca Cilacap 3-9-2014

Cerah
Suhu : 22-280C
Angin : 5-27 km/jam
Cuaca Maritim KLIK Disini

Login

Nama Pengguna Kata sandi
Lupa kata sandi anda? Lupa nama pengguna anda?
Panen Padi SRI Organik, Hasilkan 11 Ton Per Hektar
Oleh Wagino   
Selasa, 28 Pebruari 2012 23:12

KESUGIHAN, (CIMED) – Kelompok Tani Armada Desa Karang Jengkol, Kecamatan Kesugihan panen perdana padi varietas Inpari1 dengan pola tanam SRI (System of Rice Intensification) organik, Selasa (28/2/2012). Hasilnya menggembirakan, 11,29 ton per hektar atau lebih besar daripada hasil panen padi yang ditanami dengan pupuk kimia, yaitu 5,2 ton per hektar.

Ketua Kelompok Tani Armada, Tasmud Junaedi mengatakan selain menanam varietas baru yakni Inpari 1, kelompoknya juga menerapkan pola tanam padi SRI organik. menemui banyak kendala karena baru pertama kali.

“Pelaksanaan pola tanam padi SRI organik ini banyak menemui kendala karena baru pertama kali,” kata Tasmud Junaedi.

Menurutnya, karena baru pertama kali, masih banyak anggota kelompoknya yang ragu-ragu. Dari 30 hektar baru 10 hektar yang ditanam dengan pola SRI organik.

“Tapi setelah melihat perkembangan saat ini hasilnya bagus, pada musim tanam besok anggota yang lain akan ikut menerapkan pola SRI organik,” ujarnya.

Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Cilacap Gunawan mengatakan, ada 10 hektar lahan padi SRI organik milik Kelompok Tani Armada yang saat ini memasuki masa panen. Ini merupakan tahun pertama KT Armada menikmati masa panen padi SRI organik yang ditanam sejak Nopember 2011.

“Perhitungannya dengan pola tanam sistim SRI ini banyak keuntungan, biaya tanam murah hasilnya pun berlipat,” kata Kepala Dispertnak, Gunawan disela-sela panen padi model SRI organik Kelompok Tani Armada di Desa Karang Jengkol, Kesugihan, Selasa (28/2/2012).

Gunawan menyebutkan, pola tanam padi SRI organik mampu menghasilkan 11,29 ton per hektar gabah kering panen, jauh lebih besar jika bandingkan dengan padi biasa yang ditanami dengan pupuk anorganik atau pupuk kimia rata-rata hanya 5,2 ton per hektar.

“Dengan pola ini, satu batang padi berkembang menjadi satu rumpun yang berisi antara 50 hingga 70 batang. Jika pola biasa satu rumpun hanya berisi maksimal 25 batang padi,” terangnya.

Dia menambahkan, awalnya dulu memang banyak kendala, tapi sekarang sudah pada tahu manfaatnya. Seperti di daerah Sidareja ada yang sudah total menggunakan pupuk organic sehingga kemudian muncul beras organik.

“Jika sudah murni menggunakan pupuk organic, beras organic yang dihasilkan mahal harganya mencapai Rp 13.000 per kilogram. Sedangkan beras biasa sekarang ini harga harganya berkisar antara Rp 7.500 hingga Rp 8.000,” imbuhnya.

Gunawan berharap, para petani untuk meneruskan pola ini karena selain biaya tanam lebih murah, waktu semai pun lebih cepat dan hasilnya berlipat.

Pola tanam padi model SRI adalah cara bertanam padi kembali ke alam. Artinya, petani tidak lagi menggunakan pupuk kimia, tapi memanfaatkan jerami, limbah geraji, sekam, pohon pisang, pupuk kandang yang diolah untuk pupuk tanahnya (pupuk organic).

Setelah itu, ditanam di sawah dengan biji tunggal (satu biji benih) saat usia benih tujuh hari dengan jarak 30 cm x 30 cm. Tidak banyak diberi air, lalu penyiangan dilakukan empat kali, pemberian pupuk alami hingga enam kali, pengendalian hama terpadu, dan masa panen saat usia 100 hari atau lebih cepat 15 hari dengan pola biasa.



Share on
Facebook! Twitter! Joomla Free PHP
 

Posting komentar anda