Sep
28
2020
Today
Cuaca Cilacap 01-09-2020

Berawan
Suhu : 24-300C
Angin : 5-10 km/jam
Cuaca Maritim

Login

Nama Pengguna Kata sandi
Lupa kata sandi anda? Lupa nama pengguna anda?
Penimbunan BBM Di Cilacap Disinyalir Berasal Dari Jawa Barat
Oleh Wagino   
Senin, 05 Mei 2008 21:09

CILACAP - Timbunan bahan bakah minyak (BBM) di Cilacap diduga berasal dari wilayah Jawa Barat. Hal tersebut dikemukakan oleh Anaz Pribadi, selaku Ketua Dewan Pimpinan Cabang Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas Banyumas ( Hiswana Migas Banyumas ).

"BBM jenis minyak tanah tersebut bukan berasal dari wilayah kita tetapi disinyalir dari Jabar," katanya saat dihubungi melalui telpon genggamnya, Senin (5/05).

Menurut Anaz, pengawasan dan pemberian sanksi bagi agen maupun pangkalan di wilayahnya terus diterapkan sehingga kecil kemungkinan terjadi penyimpangan.

Saat disinggung mengenai kemungkinan penggunaan BBM tersebut sebagai "ireks" atau campuran minyak tanah dan solar bagi nelayan, dia menyatakan enggan berkomentar. "Saya tidak bisa mengomentari hal itu, apakah nantinya penggunaan 'ireks' oleh nelayan Cilacap akan dilarang seperti Pekalongan atau tidak," katanya.

Secara terpisah, Kepala Bagian Perekonomian Sekretariat Daerah Kabupaten Cilacap, Kadar Solih mengatakan, kemungkinan hal itu terjadi dengan memanfaatkan kevakuman pengawasan distribusi. "Mungkin karena saat ini sedang ada masa transisi pengawasan distribusi dari Hiswana Migas kepada Pemkab setempat," katanya.

Meski demikian, lanjut Solih, pengawasan distribusi di tingkat pangkalan merupakan tanggung jawab pemkab. "Namun untuk distribusi dari pangkalan ke pengecer atau konsumen rumah tangga, saya tidak bisa komentar banyak karena sangat sulit untuk pengawasannya," ujarnya.

Sementara itu Ketua Koperasi Unit Desa (KUD) "Mino Saroyo" Cilacap, Untung Jayanto mengatakan, adanya indikasi penimbunan minyak tanah bersubsidi di Cilacap. Berdasarkan pengalaman Agustus 2007 lalu, tim dari KUD pernah menemukan kasus penimbunan sebanyak 30 ton minyak tanah bersubdisi yang diduga akan dijadikan "ireks". "Namun kita tidak bisa menindaknya," katanya menegaskan.

Menurut Untung, akibat maraknya penggunaan 'ireks' tersebut, pendapatan SPBU nelayan yang dikelola KUD "Mino Saroyo" mengalami penurunan hingga 70 persen. Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun dari sejumlah nelayan diketahui jika sumber penimbunan BBM tersebut tidak hanya berasal dari wilayah Jabar tetapi juga dari Cilacap, Gombong, dan Kebumen. Bahkan dari sekitar 50 "tauke" (pengusaha kapal besar) hampir semuanya memiliki "bunker" (tempat penyimpanan BBM) karena dari sekitar 300 kapal eks "trawl" yang mereka miliki, untuk berlayar rata-rata membutuhkan BBM sekitar 300 liter per hari.

Belum lama ini, Satuan Reserse Kriminal Polres Cilacap pada Sabtu (3/5) berhasil menemukan sebuah gudang penimbunan BBM sebanyak 40 ton di sebuah gudang di Kompleks Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap (PPSC). Hingga saat ini kasus tersebut masih terus diselidiki dengan memeriksa lima orang saksi yakni GT, UN, SN, MNT, dan SD.