Okt
20
2020
Today
Cuaca Cilacap 01-09-2020

Berawan
Suhu : 24-300C
Angin : 5-10 km/jam
Cuaca Maritim

Login

Nama Pengguna Kata sandi
Lupa kata sandi anda? Lupa nama pengguna anda?
Kerap Ganggu Pengguna Jalan, Anak Punk Dirazia Satpol PP
Oleh Wagino   
Rabu, 26 Maret 2014 20:50

PURBALINGGA, (CIMED)  - Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Purbalingga melakukan razia terhadap keberadaan anak punk yang biasa mangkal di sejumlah perempatan lampu merah. Razia dilakukan Satpol PP menyusul banyaknya laporan dari masyarakat lewat SMS dan telepon. Pasal mereka dianggap kerap mengganggu ketertiban umum saat mengamen.


“Operasi tadi berhasil mengamankan sepuluh anak punk. Mereka kami bawa ke Markas untuk dilakukan pembinaan,” ungkap Kasi Dalops Satpol PP Purbalingga, Teguh Sungkono, Rabu (26/3/2014) siang.

Dijelaskan Teguh Sungkono, razia anak punk yang biasa ngamen di perempatan ini, dilakukan Satpol PP dengan menyisir sejumlah perempatan dan lampu merah. Lokasi razia di perempatan Mandiri dan Kedungmenjangan. Beberapa anak punk lari kocar-kocar melihat mobil petugas.

Petugas yang mengejar sempat kebingungan karena mereka lari masuk gang, ketika menggelar razia di Kedungmenjangan. Tapi berkat petunjuk warga, akhirnya satu orang anak punk berhasil dibekuk.

Tiga anak punk berhasil dirazia di perempatan Pasar Mandiri dan tujuh lainnya dirazia di perempatan Kedungmenjangan.

Anak punk yang digaruk kemudian dibawa ke Markas Satpol PP di kompleks Pendopo Dipokusumo, guna dilakukan pembinaan. Untuk memberikan efek jera anak punk yang tertangkap dipotong rambutnya dan diminta mandi.

“Usai dilakukan pembinaan, kami juga memberikan makan siang kepada mereka,” jelasnya.

Teguh Sungkono menambahkan,  razia ini dilakukan karena Satpol PP banyak mendapatkan keluhan dari masyarakat terkait menjamurnya anak punk yang ngamen di jalanan.

"Selama beberapa minggu terakhir ini saya selalu mendapatkan laporan dari masyarakat melalui sms dan telpon," ungkapnya

Selain meresahkan, lanjutnya, mereka pun kerap memacetkan lalu lintas karena berdiri seenaknya di tengah jalan. Bahkan di antara mereka kerap memaksa untuk diberikan uang imbalan. Dari hasil pendataan,  mereka ternyata banyak yang berasal dari luar Purbalingga. Diantaranya berasal dari Jogja, Cilacap, Wonosobo dan Lampung.

“Selanjutnya, mereka akan kami kirim ke Pondok Pesantren di Karangsari. Setelah itu, akan dikirimkan ke panti rehabilitasi di Cilacap,” imbuhnya.