Sep
28
2020
Today
Cuaca Cilacap 01-09-2020

Berawan
Suhu : 24-300C
Angin : 5-10 km/jam
Cuaca Maritim

Login

Nama Pengguna Kata sandi
Lupa kata sandi anda? Lupa nama pengguna anda?

Berita Terkait :

Pabrik Gula Rafinasi Jajaki Investasi Di Purbalingga
Oleh Totok S   
Sabtu, 18 Juli 2009 18:03

PURBALINGGA, (Cimed) - PT Dharmapala Usaha Sukses (DUS) sebuah perusahaan pengolahan gula rafinasi berencana menanamkan investasinya di Purbalingga pada tahun 2013.  PT DUS kini tengah menjajaki soal dukungan lahan lokasi pabrik dan ketersediaan bahan baku berupa tebu. Saat ini, PT DUS telah membuka pabriknya di komplek Pelabuhan Tanjung Intan, Cilacap.

Rencana investasi pabrik PT DUS disampaikan langsung Presiden Direkturnya Manuth Marrel kepada Bupati Purbalingga Triyono Budi Sasongko di Purbalingga belum lama ini.

Manuth Marrel mengungkapkan, PT DUS berkantor pusat di Singapura dan bergerak dalam usaha gula rafinasi. Jika hasil studi kelayakan pendirian pabrik di Purbalingga menunjukkan hasil yang baik, maka PT DUS berencana memindahkan pabrik dari Singapura ke Purbalingga.

“Kami masih menjajaki kemungkinan lahan untuk pendirian pabrik yang mencapai luas antara 20 hingga 25 hektar, dan dukungan bahan baku berupa tanaman tebu,” kata Manuth Marrel.

Dijelaskan Manuth Marrel, jika terealisir, PT DUS sudah bisa beroperasi pada tahun 2013. Untuk dukungan bahan baku gula, dibutuhkan lahan sekitar 8.000 hektar. Dengan kapasitas pabrik, lanjutnya, per hari rata-rata 6.000 ton.

“Apabila dukungan bahan baku berupa tanaman tebu mencukupi di wilayah Purbalingga dan sekitarnya, termasuk dari Banjarnegara, dan Banyumas, maka kami target pada tahun 2013 pabrik sudah bisa beroperasi di Purbalingga,” katanya.

Menanggapi rencana itu Bupati Purbalingga Triyono BS mengatakan, pihaknya sangat menyambut baik rencana investasi PT DUS ke Purbalingga. Triyono berjanji akan mendukung dan memfasilitasi pendirian pabrik ini yang diharapkan akan mampu menyerap tenaga kerja dan mengurangi pengangguran.

“Kami sangat menyambut baik rencana investasi PT DUS ke Purbalingga. Kami akan mencoba memfasilitasinya dengan tetap mengacu pada ketentuan yang berlaku,” katanya.

Dia menjelaskan, untuk kebutuhan bahan baku berupa tebu, akan dikoordinasikan oleh pihak Dinas Pertanian dengan masyarakat petani tebu dan kabupaten tetangga.

“Untuk lahan tebu di Purbalingga saat ini hanya seluas 622 hektar, jika kelak PT DUS berdiri maka masih ada peluang untuk pengembangan lahan budidaya tebu rakyat hingga ribuan hektar. Jika tidak mampu akan dicukupi dari kabupaten lain disekitar Purbalingga,” terangnya.

Diperoleh keterangan, PT DUS merupakan perusahaan dengan kegiatan utama mengolah gula mentah (row sugar) yang di import dari Thailand, Australia, Brasil dan beberapa negara lainnya. Gula mentah ini diolah menjadi gula rafiinasi untuk kepentingan industri seperti industri makanan, minuman dan farmasi.

Saat ini PT DUS sudah mengembangkan usahanya di Cilacap dengan menempati areal seluas 5,5 hektar di komplek Pelabuhan Tanjung Intan Cilacap dengan luas bangunan 1,5 hektar. Pada tahun 2008, mengembangkan usahanya dengan meperluas pabrik seluas 1,0 hektar untuk Gudang Batubara, Power Plant / Boiler Batubara, Gudang Produk Jadi, Gudang Bahan Baku, dan Instalasi Pengolah Air Limbah (IPAL). Setelah perluasan pabrik maka kapasitas produksi menjadi 800 ton perhari gula refinasi.

Di pulau Jawa saat ini terdapat lima pabrik pengolah gula rafinasi. Pabrik tersebut yakni PT Angels Products (kapasitas 500.000 ton), PT Jawamanis Rafinasi (500.000 ton), PT Sentra Usahatama Jaya (540.000 ton), PT Permata Dunia Sukses Utama (390.000 ton), dan PT Dharmapala Usaha Sukses (250.000 ton). Empat pabrik yang disebut pertama telah berproduksi dengan utilisasi kapasitas hampir 70 %. Sedang PT Dharmapala Usaha Sukses belum berproduksi, dan kini lebih banyak melakukan aktivitas impor gula mentah (sekitar 28.000 ton).

Pada tahun 2009 ini ada tambahan tiga lagi pabrik gula rafinasi dengan total kapasitas 850.000 ton dan investasi US$100 juta. Pabrik ini akan berlokasi di Makassar (kapasitas 200.000 ton), Cilegon (250.000 ton), dan Lampung (300.000 ton).