Sep
28
2020
Today
Cuaca Cilacap 01-09-2020

Berawan
Suhu : 24-300C
Angin : 5-10 km/jam
Cuaca Maritim

Login

Nama Pengguna Kata sandi
Lupa kata sandi anda? Lupa nama pengguna anda?
Wisata Pemandian Air Panas Cipari, Hidup Segan Mati Tak Mau
Oleh Wagino   
Kamis, 20 Maret 2008 19:16

CIPARI – Itulah kenyataan yang harus diterima salah satu obyek wisata di Cilacap, Pemandian Air Panas Cipari. Bagaimana tidak, kondisinya saat ini benar-benar mempihatinkan, Kamis (20/3).


Pemerintah Kabupaten Cilacap sepertinya tidak begitu serius menggarap potensi wisata yang ada. Kenyataannya, saat ini banyak potensi wisata yang sengaja "ditidurkan" yang dinilai kurang mendatangkan PAD. Salah satunya adalah obyek wisata Pemandian Air Panas Cipari di Kecamatan Cipari yang berjarak sekitar 65 km dari kota Cilacap.

Budi Harjono atau warga sekitar memanggilnya Gohang yang saat ini dipercaya menjadi juru kunci, mengatakan, meski sudah berulang kali tempat wisata tersebut dikunjungi oleh Komisi C DPRD Cilacap dan juga staf Dinas Pariwisata yang berjanji akan membenahi, namun hingga sekarang tidak kunjung ada perbaikan bahkan kerusakan pada bangunan yang berbentuk leter L makin parah.

Menurut keterangan Budi Harjono berdasar cerita dari mbahnya, air panas yang bersumber dari tempat yang mirip sumur tersebut muncul sejak tahun 1930-an. Ketika Belanda masih menduduki beberapa wilayah di Indonesia, termasuk di Kecamatan Cipari.

Menurut dia, Pemerintahan Belanda sangat getol mengeksplorasi kekayaan alam di bumi Indonesia. Salah satu di antaranya, tempat yang diduga sebagai penghasil minyak yaitu Cipari. Saat melakukan pengeboran yang keluar justru semburan air panas sehingga pengeboran dihentikan. Selanjutnya, memanfaatkan temuan itu sebagai tempat pemandian dengan bangunan berbentuk leter L. Bangunan itu terdiri dari 10 kamar mandi yang ukurannya bervariasi. Dua kamar mandi induk berukuran 4x4 meter dan delapan kamar mandi lainnya berukuran 4x2 meter. Semuanya dilengkapi bak untuk berendam setelah bekerja di pabrik pengolahan karet. Tak jauh dari pemandian yaitu Ciseru, terdapat pabrik berikut perkebunan karet yang kini masih ada.

Dalam perkembangannya, pemandian tersebut tidak begitu diperhatikan. Bahkan keadaannya sangat mengenaskan. Dari sepuluh kamar, yang berfungsi hanya tinggal dua yaitu kamar mandi induk. Satu diantara kamar mandi induk digunakan oleh warga sekitar untuk keperluan mandi sedang yang satu untuk pengunjung. Kamar mandi lainnya rusak parah, bahkan beberapa di antara bak mandi, tertutup tanah. Kondisi bangunannya rusak, atap genteng yang ada banyak yang ambrol. Di halaman ada dua tempat berteduh pengunjung yang kondisinya nyaris tak berbentuk.

Padahal, lanjut Budi, tempat wisata pemandian air panas ramai dikunjungi wisatawan pada hari biasa dan hari libur, terlebih saat musim liburan yang sengaja datang untuk mandi air panas. Banyak pengunjung yang datang dari luar daerah seperti Ciamis, Tasikmalaya dan Banyumas.

Konon air panas yang berasal dari sumber mirip sumur tersebut dan mengandung belerang dapat menyembuhkan penyakit, khususnya penyakit kulit. Banyak pengunjung yang datang merasa cocok, semua penyakit yang dideritanya dapat sembuh. Mereka yang mandi air panas tersebut biasanya tidak hanya satu kali, tetapi sampai beberapa kali agar penyakitnya cepat sembuh.

Para pengunjung yang datang dikenai bea masuk sebesar Rp 1.500 per orang. Namun demikian, Budi tidak berani menjual tiket resmi Dinas Pariwisata tersebut berdasar jumlah pengunjung yang masuk pasalnya banyak pengunjung yang mengeluh, tiket ditarik tapi bangunan tidak diurus.

Ia berharap pemerintah Kabupaten Cilacap memperhatikan tempat wisata pemandian air panas dengan segera melakukan perbaikan bangunan yang ada serta sarana pendukung lainnya. Pasalnya tiket yang selama ini ditarik dari pengunjung dananya disetorkan ke Pemerintah melalui Dinas Pariwisata Cilacap.

Kalau pemerintah Kabupaten Cilacap tanggap dan segera membenahi obyek wisata Pemandian Air Panas Cipari. Bukan tidak mungkin tempat Pemandian Air Panas Cipari akan lebih menarik wisatawan dari luar daerah sekaligus mendatangkan PAD serta berkah bagi warga sekitar yang mayoritas berprofesi penderes dan buruh perkebunan karet.