Okt
26
2014
Today

Cuaca Cilacap 3-9-2014

Cerah
Suhu : 22-280C
Angin : 5-27 km/jam
Cuaca Maritim KLIK Disini

Login

Nama Pengguna Kata sandi
Lupa kata sandi anda? Lupa nama pengguna anda?
Imbas Sedimentasi Segara Anakan PDF Cetak E-mail
Lingkungan
Selasa, 20 Mei 2008 21:08

Membicarakan sedimentasi Sungai Citanduy dan sungai lain berarti pergulatan menyelamatkan perairan dan Laguna Segara Anakan di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah.Laguna itu memang mengalami pendangkalan dan kehilangan ekosistem uniknya yang merupakan habitat dan tempat pemijahan ikan, udang, dan biota laut lainnya di selatan Pulau Jawa.


Pergulatan panjang itu dimulai De Haan, pejabat Pemerintah Kolonial Belanda (1931) yang menaruh perhatian terhadap hutan mangrove. Ia khawatir, tingginya tingkat sedimentasi yang masuk dan mengendap di Perairan Segara Anakan akan menyebabkan pendangkalan di Laguna Segara Anakan.

Kekhawatiran De Haan menjadi kenyataan. Kini perairan yang terletak di selatan Cilacap dan berbatasan dengan Pulau Nusakambangan di sebelah timur dan wilayah Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, itu nyaris tinggal hikayat.

Luas kawasan Segara Anakan dari tahun ke tahun kian menyusut akibat pendangkalan atau sedimentasi lumpur yang dibawa Sungai Palindukan, Cikonde, Cianduy, serta sungai lainnya yang bermuara di laguna tersebut.

Menurut data yang dimiliki Pusat Studi Kebijakan Lingkungan (PUSAKA), pada tahun 1903 luas kawasan segara anakan tercatat 6.450 hektare (ha), tahun 1992 menjadi 1.800 ha, dan tahun 2001 menyusut menjadi 1.200 ha, dan Maret 2006 hanya tersisa tidak lebih dari 834 ha.

Endapan lumpur yang dibawa beberapa sungai yang bermuara di Segara Anakan tiap tahun kurang lebih 5 juta meter kubik. Sehingga meskipun telah dilakukan pengerukan secara periodik, kontribusi lumpur dari sejumlah sungai itu mengakibatkan luas laguna kian menyempit.

Ketika penulis bersama dengan beberapa tokoh LSM yang ada di Cilacap melihat secara langsung kondisi segara anakan terutama yang sangat memprihatinkan di alur Plawangan Barat Nusakambangan yang kini menyempit hingga berjarak sekitar 60 m antara pulau Jawa dan Nusakambangan.

Kawasan Unik

Laguna Segara Anakan menyimpan sejumlah keunikan. Berlokasi di daerah muara di pantai selatan Jawa Tengah, tempat ini memiliki kawasan mangrove yang masih tersisa di Jawa. Malahan, sejumlah catatan menunjukkan kawasan mangrove di Segara Anakan adalah kawasan terluas di wilayah paling padat penduduk di Indonesia. Tentu saja, kawasan mangrove itu mendukung kehidupan minimal 85 jenis burung, termasuk bangau bluwok (Mycteria cinerea) dan bangau tongtong (Leptoptilos javanicus) � keduanya tercatat sebagai burung terancam punah.

Kehidupan burung air dapat menjadi indikator kehidupan hayati Segara Anakan. Secara umum burung air di kawasan ini tersebar berdasar kondisi lahan basah yang berada di wilayah tersebut serta kecendrungan pola penyebaran masing-masing jenis burung.

Kawasan mangrove di tanah Jawa sudah semakin langka dan di kawasan ini kabarnya paling luas di Dunia setelah Negara Brazil. Di kawasan mangrove kita dapat melihat kehidupan keanekaragaman hayati yang unik. Yang paling gampang, perilaku burung-burung air.

Pada kawasan hutan mangrove maupun paparan lumpur dan sekitarnya ditemukan burung yang dilindungi, di antaranya: cangak abu, kuntul besar, kuntul perak, kuntul kecil, bluwok, bangau tong-tong, camar, raja udang, burung madu, dan elang ikan. Selain burung dilindungi, juga ditemukan jenis burung migran dari belahan bumi utara: trinil, gegajahan dan cerek.

Pada bagian areal mangrove hutan campuran dari Sungai Ujung Alang ke timur hingga Sungai Bengawan ke selatan sampai daerah Jojog dan ke barat mulai Sungai Kembangkuning sampai dekat Motean ditemukan 32 jenis burung dan 13 jenis di antaranya termasuk burung yang dilindungi.

Sayangnya, kawasan Segara Anakan dari tahun ke tahun terus mendapat tekanan. Sebagian besar tekanan itu disebabkan oleh aktivitas manusia. Sebut saja, konversi hutan mangrove menjadi tambak, pencurian kayu mangrove untuk kayu bakar hingga ancaman perburuan burung air menjadi penyebab tersingkirnya beberapa spesies burung air yang ada di sini.

Penebangan kawasan hutan mangrove memang sudah terbukti menyebabkan luas hutan Segara Anakan terus menyusut. Dari 21.000 ha saat ini diperkirakan tinggal 6800 ha saja. Tentu, penyusutan hutan akan berdampak pada kehidupan dan populasi ikan, udang dan biota laut lainnya. Kabarnya, kawasan sisa-sisa hutan mangrove tak lagi menjadi persinggahan burung-burung bangau Australia yang bermigrasi. Pasalnya, sudah terlalu susah untuk mematuk ikan atau udang.

Ekonomi

Ekosistem Segara Anakan yang terdiri dari kawasan hutan mangrove, muara berbagai sungai, dan bentuknya sebagai laguna, sangat kaya nutrien. Itu sebabnya Laguna Segara Anakan kaya akan sumber daya ikan. Lebih dari 45 jenis ikan ada di sana, baik jenis ikan yang menetap seperti ikan prempeng (Apogon aerus) dan yang bermigrasi seperti sidat laut (Anguilla sp).

Sumber daya biota laut lain di perairan ini adalah ikan�ikan kecil yang merupakan mata rantai pangan bagi berbagai jenis ikan di Samudra Hindia. Ada juga larva dan post larva berbagai jenis ikan dan udang di beberapa alur. Hal ini menunjukkan adanya keterkaitan antara perairan lepas pantai dengan Segara Anakan.

Hasil penelitian Richard Dudley dari Australia tahun 2000 memperlihatkan, potensi ikan dan biota laut di kawasan Segara Anakan terus menurun dibanding tangkapan 10 tahun silam. Kendati demikian, Segara Anakan masih dapat menopang kehidupan warga setempat sebagai sumber mata pencaharian.

Data menunjukan, hingga kini Kecamatan Kampung Laut dihuni oleh 14.407 jiwa pada areal seluas 139,59 ha. Tercatat tidak kurang dari empat desa berada di wilayah yang bila dilihat melalui peta berhimpitan dengan pulau Nusa Kambangan. Yakni Desa Kleces dihuni oleh 1.211 jiwa, desa Panikel terdapat 4.650 jiwa, desa Ujunggalang 4.658 jiwa dan desa Ujunggagak 3.888 jiwa.

Beberapa yang masih potensial antara lain adalah kepiting bakau, yang menurut Dudley nilai jualnya setiap tahun dapat mencapai Rp 3 milyar, atau udang yang hasil tangkapannya senilai Rp 2,625 milyar lebih per tahun, ikan yang mencapai Rp 3,750 milyar per tahun, atau kerang totok senilai Rp 1,875 milyar per tahun. Apabila ditotal nilainya bisa Rp 11,25 milyar. Padahal, 10 tahun lampau nilai hasil tangkapan dari Laguna mencapai 25 juta dollar AS per tahun atau setara dengan Rp 225 milyar saat ini.

Kemudian lembaga independen Amerika Serikat (ECI/Engineering Consultant Incorporation) yang juga meneliti Segara Anakan menyebutkan, 94 persen udang di perairan lepas pantai selatan Pulau Jawa menggunakan Laguna Segara Anakan sebagai tempat pembiakannya.

Konsep paling baru untuk menyelamatkan perairan dan laguna serta kawasan hutan mangrove adalah memindahkan muara Sungai Citanduy. Dengan membuat sudetan sepanjang 3 kilometer, muara sungai yang semula di Perairan Segara Anakan di geser ke Teluk Nusawere di Kabupaten Ciamis. Ini berdasarkan hasil studi yang menyatakan sebaran lumpur dari Citanduy nantinya akan terbuang melebar sejauh satu sampai dua kilometer, paling jauh lima kilometer dari Nusawere.

Pembuatan sudetan Citanduy tidak hanya menyelamatkan Segara Anakan tetapi juga mengurangi genangan banjir, tidak hanya di daerah hilir seperti Sidareja, Patimuan, Wanareja, Karunganten di wilayah Cilacap, tetapi juga puluhan desa di Kabupaten Ciamis.

Banjir akibat luapan Citanduy memang hampir setiap tahun menggenangi belasan desa di wilayah Kecamatan Patarunan, Langensari, Lakbok, Padaherang, dan Kecamatan Kalipucang yang menimbulkan kerugian Rp 15 milyar per tahun. Di Kecamatan Lakbok misalnya, dari areal persawahan seluas 6.014 ha yang merupakan daerah irigasi teknis yang mengandalkan suplai air dari Citanduy, 18 persen atau setara dengan 1.100 ha terkena dampak langsung luapan Citanduy.

Melihat kerugian yang begitu besar, sudetan Citanduy perlu segera direaliasikan. Jika tidak, kerugian lebih besar bakal dialami petani di wilayah Cilacap maupun Ciamis.

Aset Nasional Terancam

Sedimentasi di Segara Anakan tidak hanya menjadi faktor utama penyebab banjir, namun sudah mengancam keberadaan aset nasional kilang PT. Pertamina (Pearsero) UP IV Cilacap serta sejumlah industri lainnya.

Apalagi, proses sedimentasi bukan hanya dari lumpur Citanduy, tetapi juga sejumlah sungai lainnya, antara lain Sungai Cimeneng dan Sungai Cibeureum.

Sedimentasi Segara Anakan tidak hanya menyebabkan banjir, namun juga mengganggu alur pelayaran kapal tanker pemasok minyak mentah (crude oil) ke pelabuhan khusus Pertamina Lomanis Cilacap.

Setiap dua tahun sekali PT. Pertamina (Persero) harus melakukan pengerukan lumpur pada alur tanker hingga ke pelabuhan dalam Bengawan Donan sejauh 3 km. Frekuensi pengerukan diperkirakan akan terus meningkat, mengingat proses sedimentasi semakin cepat.

Setiap tahun, penambahan ketebalan lumpur di alur kapal tanker di area 70 Pertamina UP IV mencapai 75 cm. Artinya, setiap dua tahun endapan lumpur bertumpuk setinggi 1,5 meter. Padahal, tanpa ada pengerukan dapat dipastikan pasokan minyak mentah dari negara Timur Tengah terganggu. Tentu saja Pertamina tidak ingin menuai protes dari International Marine Organization ( IMO ) dan negara pengekspor minyak, sehingga secara berkala harus melakukan pemeliharaan alur dengan pengerukan.

Menurut data dari PT. Pertamina (Persero) Cilacap, pengerukan lumpur terakhir dilaksanakan 2003 dengan volume lumpur yang diangkat mencapai 375.000 m3 dan sekali pengerukan dibutuhkan biaya Rp 4,8 miliar. Dana itu sengaja dianggarkan sebagai biaya operasional, meskipun pengguna perairan area 70 bukan hanya Pertamina tetapi industri lainnya.

Pro dan Kontra

Meskipun upaya penyelamatan ini sudah matang, namun tidak serta merta rencana tersebut dapat dilaksanakan. Tanggapan masyarakat setempat belum semuanya senada. Ada yang setuju ada juga yang tidak. Pasalnya, menurut mereka yang belum seirama berpendapat, memang Segara Anakan bisa diselamatkan, tapi sebaliknya, Teluk Nusawere akan menjadi korban. Nusawere menurut mereka, merupakan daerah tangkapan ikan yang potensial bagi nelayan Ciamis. Masalah ini pun akhirnya meresahkan mereka, kawatir hasil tangkapan ikannya akan berkurang.

Bukan cuma itu, menurut beberapa kalangan anggota DPR-D Ciamis, yang masih keberatan upaya penyodetan ini dilakukan, membayangkan buangan lumpur di mulut sodetan akan terseret sampai ke pantai wisata Pangandaran. Tapi, mungkinkah lumpur itu akan terbawa arus sampai ke pantai Pangandaran yang berjarak 25 km itu?

Apa yang dikhawatirkan oleh sebagian masyarakat ini terlalu jauh, karena lumpur-lumpur itu akan menyebar terkena gelombang lautan bebas yang besar, bahkan akan mengarah ke tengah lautan samudera Hindia itu. Jadi, sangat kecil sekali kemungkinan lumpur-lumpur dari sodetan harus mengembara sampai ke pantai Pangandaran dengan jarak sejauh itu.

Silang pendapat mengenai rencana ini memang masih ada, tetapi pertemuan-pertemuan antara masyarakat, pihak Proyek Citanduy yang akan melaksanakan pekerjaan ini beserta pemda dan pihak DPR-D dari ke dua kabupaten itu terus dilakukan untuk menyamakan persepsi dan mencari titik temu. Meski pihak pemda Ciamispun akhirnya memahami rencana tersebut namun masih ada sebagian kelompok masyarakat yang belum iklas, sehingga kegiatan konstruksi proyek penyelamatan Segara Anakan ini belum bisa dilanjutkan.

Laboratorium Alam

Ekosistem mangrove Segara Anakan yang berpotensi memiliki fungsi sosial ekonomi tinggi ini harus diselamatkan adalah jelas semua pihak setuju. Dengan demikian, kelanjutan siklus kehidupan ikan, udang, kepiting, dan fauna lain pada umumnya, termasuk burung, aneka reptil, dsb., di laguna ini dapat dipertahankan. Sebab, semua itu sangat erat terkait dengan kepentingan atau hajat orang banyak.

Laguna ini merupakan tempat berkembang biak dan tempat membesar atau berkembangnya anak-anak satwa laut itu sebelum kemudian keluar melalui muara laguna ke laut lepas, Samudera Hindia, untuk selanjutnya ditangkap para nelayan. Oleh karena itu, Segara Anakan harus diselamatkan. Hal itu penting buat menunjang keberlanjutan produk perikanan laut setempat yang sangat erat berkaitan langsung dengan kondisi sosial ekonomi nelayan.

Juga, sebagai prasarana transportasi laut antar kecamatan dan pusat-pusat keramaian di tepi barat, selatan, dan timur perairan Segara Anakan. laguna ini adalah sangat vital. Potensi lain laguna ini adalah laboratorium alam bagi para peneliti dalam dan luar negeri dari aneka disiplin ilmu bio-geo-fisik dan sos-ek-bud-kum.

Karena, laguna ini kaya akan aneka fenomena yang dapat dikaji dari sisi salah satu atau bahkan dari sisi terpadu interdisiplin tersebut. Katakanlah, sebagai contoh dari banyak fenomena alami maupun sosial, masalah tanah timbul dapat dipandang sebagai satu fenomenon sosekbudkum yang khusus. Selain juga sebagai bahan kajian yang menarik dari salah satu aspek dinamika kebumian (geodinamika) dan lingkungan yang bisa dikaitkan dengan kajian ekosistem setempat.

Laboratorium alam ini sangat berharga sebagai objek kajian yang tersedia untuk sarana belajar para peneliti muda dan anak-anak sekolah mulai dari para pelajar SD sampai kakak-kakaknya para mahasiswa perguruan tinggi untuk belajar mengamati fenomena geologi lingkungan setempat yang memiliki ciri khas sebagai fenomena khusus dan tidak dijumpai atau langka di wilayah lain.

Oleh karena itu, wajar kalau seluruh pihak menyayangkan apabila laguna ini kelak pada suatu saat kering menjadi hamparan luas, yakni suatu pedataran aluvium (alluvial plain) seperti di wilayah lain di sebelah utaranya. Akan keringkah laguna ini kelak, kapan? Wallahu A'lam, tiada lain selain Allah SWT. yang Mahatahu. Adakah tanda-tanda ke arah itu? Jawabannya, Ya...!

Chabibul Barnabas

Penulis adalah Direktur Pusat Studi Kebijakan Lingkungan (PUSAKA)



Share on
Facebook! Twitter! Joomla Free PHP