Okt
20
2017
Today
Cuaca Cilacap 29-08-2017

Berawan
Suhu : 24-320C
Angin : 5-25 km/jam
Cuaca Maritim

Login

Nama Pengguna Kata sandi
Lupa kata sandi anda? Lupa nama pengguna anda?
Isu CSR Paling Hot Cetak
Sabtu, 18 Juli 2009 22:34

Dalam kesempatan CSR (Corporate Social Responsibilty) Master Class yang diselenggarakan belum lama ini di Singapura oleh CSR Asia, Richard Welford, akademisi terkemuka sekaligus pendiri CSR Asia memberikan bocoran mengenai hasil penelitian mereka yang mutakhir. Penelitian itu menghimpun pendapat dari 73 pakar CSR yang mengamati perkembangan CSR di wilayah Asia-Pasifik tentang apa yang bakal menjadi isu-isu terpenting dalam 10 tahun ke depan. Secara resmi, hasil penelitian tersebut baru akan diluncurkan pada bulan Juli ini. Namun, berbagi urutan isu-isu tersebut sekarang juga kiranya bukanlah suatu pelanggaran, karena memang telah dibocorkan sendiri oleh CSR Asia.

Duduk di peringkat pertama adalah perubahan iklim. Tahun lalu, isu ini juga menduduki peringkat yang sama, yang menunjukkan bahwa isu ini sangatlah penting. Di dalamnya termaktub tiga hal, yaitu keperluan untuk mitigasi dan adaptasi; keperluan seluruh perusahaan untuk menurunkan dampak yang mereka timbulkan atas perubahan iklim; dan keperluan untuk menjalin kerjasama dengan berbagai pihak dalam melakukan tindakan-tindakan tersebut. Kiranya, pilihan para pakar ini sejalan dengan terus meningkatnya bukti-bukti bahwa perubahan iklim disumbangkan terutama oleh sebab-sebab antropogenik, dan perusahaan memainkan peran yang sangat signifikan di dalamnya. Bukti-bukti terbaru juga menimbulkan interpretasi bahwa dampak perubahan iklim akan lebih parah daripada yang diramalkan sebelumnya. Wajarlah kalau para pakar menyatakan bahwa isu ini menempati peringkat pertama dua tahun berturut-turut, dan boleh jadi akan terus begitu di tahun-tahun mendatang.

Isu kedua tidak muncul sama sekali dalam 10 besar peringkat tahun lalu. Seperti yang telah diduga banyak pihak, dengan menyeruaknya krisis ekonomi baru yang dipicu oleh kecerobohan dan kerakusan sektor finansial, maka isu tata kelola perusahaan yang baik menjadi sangat penting. Di dalam isu ini termasuk transparansi dan akuntabilitas serta kepentingan untuk melibatkan pemangku kepentingan di dalam struktur tata kelola perusahaan. Ide yang paling belakang ini mungkin ekstrem buat kebanyakan perusahaan, Sesungguhnya sangatlah logis untuk berharap ada pihak-pihak di luar perusahaan yang bisa menyumbangkan pemikiran bagi keputusan-keputusan penting perusahaan, yaitu pemangku kepentingan, karena mereka memang bisa memengaruhi dan atau terpengaruh oleh keputusan dan tindakan perusahaan. Bayangkan saja, dunia ini mengalami resesi karena ulah segelintir orang rakus di sektor keuangan, yang sebetulnya bisa dicegah apabila ada pihak yang bisa mengerem ketamakan mereka itu.

Ketiga adalah isu pekerja dan sumberdaya manusia, yang mencakup juga hak-hak pekerja dalam rantai pemasok serta isu keragaman dan inklusi. Salah satu kasus menarik yang dibicarakan dalam isu ini adalah bagaimana perusahan-perusahaan membuat kebijakan dan prosedur tindakan manakala ada calon pekerja dan pekerja yang secara terang-terangan menyatakan mengidap HIV/AIDS, atau mengaku homoseksual. Kebanyakan perusahaan di Asia-Pasifik masih dengan terang-terangan melakukan tindakan eksklusi atas mereka yang memiliki masalah-masalah demikian. Di masa mendatang, kemungkinan akan lebih banyak lagi tuntutan hukum atas perusahaan didasarkan pada tindakan eksklusif seperti itu.

Di luar perubahan iklim, isu-isu lingkungan yang lain menempati peringkat keempat. Yang dianggap terpenting dalam isu lingkungan sepuluh tahun ke depan adalah air, keanekaragaman hayati dan perubahan tata guna lahan. Sangatlah jelas bahwa kelangkaan atau buruknya manajemen air memang telah menjadi isu yang lama di kawasan ini. Keanekaragaman hayati mungkin agak lama juga turun popularitasnya sebagai isu, namun karena perubahan tata guna lahan seperti dari hutan menjadi nonhutan kerap dituding sebagai salah satu penyebab perubahan iklim, dan berdampak pada susutnya keanekaragaman hayati, maka isu keanekaragaman hayati menjadi perhatian kembali. Yang mungkin agak mengagetkan adalah bahwa isu energi tidak secara tegas dinyatakan di sini. Kemungkinan karena isu energi dianggap lebih dekat kepada mitigasi perubahan iklim yaitu perlunya perusahaan untuk mengubah konsumsi energi dari yang berbasiskan fosil ke energi yang berkelanjutan.

Isu kelima adalah kemitraan dengan pemangku kepentingan. Ada dua yang dicakup di sini, yaitu pentingnya kemitraan untuk mendorong penyelesaian masalah-masalah di tingkat global serta strategi inovatif terkait dengan investasi di masyarakat. Tentu saja, isu ini menjadi sangat penting mengingat bahwa perusahaan bukanlah satu-satunya aktor pembangunan, dan tak mungkin menyelesaikan berbagai masalah pembangunan yang rumit itu secara sendirian.

Setelah lima besar di atas, berturut-turut adalah regulasi dan peran pemerintah; investasi di masyarakat dan pembangunan yang pro-rakyat miskin; tanggung jawab atas produk; profesionalisasi CSR (termasuk sertifikasi, kualifikasi dan rekognisi); serta suap dan korupsi. Ada dua hal yang perlu diperhatikan oleh perusahaan-perusahaan di Indonesia: kontekstualisasi isu-isu tersebut di sini; serta bagaimana memersiapkan diri untuk menghadapinya. Sudahkan itu dilaksanakan oleh kebanyakan perusahaan di Indonesia? Kita semua tahu, BELUM.

Arisyono, SP

Penulis adalah Mahasiswa Program Pasca Sarjana MM-CSR Trisakti, Jakarta



Share on
Facebook! Twitter! Joomla Free PHP