Nov
21
2017
Today
Cuaca Cilacap 29-08-2017

Berawan
Suhu : 24-320C
Angin : 5-25 km/jam
Cuaca Maritim

Login

Nama Pengguna Kata sandi
Lupa kata sandi anda? Lupa nama pengguna anda?
Pemilu 2014, Pemilu Jaman Modern Tapi Jadul Cetak
Sabtu, 12 April 2014 15:57

Menanti hasil perolehan suara pemilu 2014, pada hari ke empat pasca pemungutan suara, rasanya seperti menanti kedatangan calon mempelai putra yang tak kunjung tiba. Padahal petugas dari Kantor Urusan Agama dan Pembantu pencatat nikah dari desa sudah tiba. Berulang kali di kontak, selalu saja alasan keterlambatan menjadi jawaban, dan beberapa kali bahkan tulalit. Tidak berhasil terhubung.


Sungguh berbeda dengan nuansa Pemilu 2004, dimana saya menjadi Ketua KPU kabupaten Cilacap. Jangankan hari ke empat, hari kedua saja, sudah muncul konfigurasi perolehan suara masing masing peserta Pemilu, dan sudah tergambar, dari sejumlah Calon Anggota DPR/DPRD yang ada, siapa yang akan terpilih. Untuk mengetahui informasi mengenai hal itu, cukup komunikasi dengan KPU Kabupaten, staf sekretariat, atau bahkan dengan anggota Panitia Pemilihan Kecamatan se-Kabupaten Cilacap.

Kalau tidak punya akses ke Anggota KPU, Staf Sekretariat KPU, atau PPK, bisa ditanyakan ke Camat setempat, atau bahkan bias mengakses perolehan suara dari rumah masing-masing. Atau bahkan sambil jalan-jalan, sambil buang air, atau sambil mincing, sepanjang ada akses Internet. Cukup kunjungi : www.tnpkpu.go.id. Selanjutnya klik KPU Cilacap, pilih perolehan suara. Gampang, cepat, mudah, aman dan praktis. Bahkan data pemilu bias dicek per TPS, tanpa harus muter-muter. Bisa dari mana saja, cukup pakai akses Internet.

Inilah yang berbeda dari Pemilu 2014 dengan Pemilu 2004. Waktu terpaut sepuluh tahun lebih dahulu, tetapi serasa Pemilu 2004 jauh lebih maju, karena memanfaatkan perangkat teknologi informasi (TI) sebagai data pembanding. Penggunaan TI untuk back up hasil Pemilu memiliki nilai lebih, antara lain menjamin informasi hasil Pemilu yang cepat, aman dan transparan.

Teknologi informasi memungkinkan informasi diterima dan disebarkan secara cepat, tanpa ada kendala macet di jalan, kecelakaan, atau data dicuri oleh caleg yang kalah, atau oleh kelompok yang berkepentingan menyabotase hasil perhitungan suara.

Input data perolehan suara dikirimkan langsung sesaat setelah penghitungan suara oleh salah satu anggota Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) ke Tim IT KPU melalui pesan pendek (SMS, short message service)  di handphone, menggunakan pin khusus yang dibuat beda seluruh TPS se Indonesia, sehingga lebih aman. Formulir Back-up dari model IT tersebut (C-1 IT) kemudian dikirim secara langsung dari Tempat Pemungutan Suara (TPS) ke Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK), dan selanjutnya oleh petugas PPK yang mengurusi hitung cepat di pindai (di scan), dan selanjutnya dikirim hasilnya ke KPU Jakarta.

Kemudian hasil itu ditayangkan di situs web KPU, sehingga pemilih di tiap daerah dapat memantau perolehan suara di TPS masing- masing dengan men-download data yang dimasukkan ke dalam situs tersebut. Data yang ditampilkan dalam situs web bukan hanya jumlah suara di tingkat kecamatan dan kelurahan, tetapi juga di tiap TPS.

Dengan menggunakan teknologi VPN (Virtual Privete Network) setiap komputer di kecamatan seluruh Indonesia dapat langsung terkoneksi dengan server yang ada di KPU Jakarta secara secure. Dari 4.000 lebih kecamatan, ada sekitar 2.400 kecamatan yang termasuk dalam jaringan komunikasi Telkom telah dilengkapi dengan virtual private network. Sementara itu, yang tidak terjaring oleh Telkom, yaitu lebih 1.400 kecamatan, menggunakan fasilitas komunikasi satelit yang diselenggarakan Pasifik Satelit Nusantara (PSN). Dengan sarana ini, data dari komputer akan dikirim ke kantor KPU pusat via komunikasi satelit.

Hasilnya, dalam waktu paling lama dua belas jam setelah penghitungan suara selesai, hasil perolehan suara telah dapat dilihat oleh masyarakat dunia. Bukan hanya perolehan di tingkat pusat, atau kabupaten, bahkan bisa dilihat perolehan di masing-masing TPS.

Karena Komputer super yang digunakan untuk IT Pemilu 2004 diperkirakan akan memproses data yang berjumlah 2.136.096 suara pemilih (4 x 534.024 TPS), yaitu suara untuk calon anggota legislatif di DPR, DPRD provinsi, DPRD kota, dan DPRD kabupaten, maka sistem komputasi ini juga dilengkapi oleh komputer cadangan yang berada di suatu tempat yang dirahasiakan. Maka, apabila komputer utama mengalami kerusakan karena berbagai sebab, seperti gempa bumi atau serangan teror bom, komputer DRC (disaster recovery center) akan langsung mengambil alih. Sejak awal beroperasi, komputer cadangan ini juga secara realtime mencatat data yang diterima komputer utama.

Pengiriman data pemilu dengan sistim IT ini memungkinkan data dapat diketahui secara cepat, karena kecepatan jangkauan Internet sangat bisa inandalkan. Disamping itu aman, karena kecil kemungkinan data yang sudah masuk ke server KPU hilang, jatuh di perjalanan, atau diutak-atik jumlah perolehannya oleh siapapun. Penggunaan IT juga lebih mendorong transparansi. Kecil kemungkinan data yang sudah ditayangkan melalui internet disembunyikan, atau dipalsukan oleh siapapun. Rekapitulasi secara elektronis merupakan langkah untuk pembaruan tata kelola pemilu di Indonesia dan memenuhi syarat transparansi, yaitu penayangan hasil penghitungan di TPA di media publik yang dapat diakses siapa pun, di mana pun, kapan pun, dan perangkat elektronik apa saja.

Ini tentu sangat berbeda dengan kondisi Pemilu 2014 yang menafikan prinsip-prinsip tersebut. Suasana Pemilu serasa kembali ke Pemilu Tahun 1955, dimana masyarakat dan peserta Pemilu yang tidak memiliki perangkat saksi sendiri yang lengkap sampai tingkat TPS harus menggigit jari jika ingin mengetahui gambaran perolehan suara secara pasti. Jangankan dalam waktu dua belas jam setelah penghitungan suara, tiga hari setelahnyapun tetap saja data yang dibutuhkan belum bisa ditayangkan.

Belum lagi, dengan buruknya desain logistik Pemilu yang mengakibatkan banyaknya kasus surat suara tertukar di masing-masing Daerah Pemilihan (Dapil), sehingga akhirnya mengharuskan dilakukan pemungutan suara ulang di beberapa daerah. Ini tentu keteledoran yang luar biasa. Sebelum dilakukan pelipatan dan pemasukan surat suara ke kotak suara, mestinya dilakukan sortir surat suara. Dan proses packingnya dilakukan secara terpisah antara surat suara untuk daerah pemilihan yang satu dengan lainnya. Dengan demikian, maka kalau terjadi kekeliruan memasukkan surat suara, akan diketahui sebelum kotak suara disegel dan dikirim ke masing-masing daerah. Ketika kotak suara disegel, tentu juga harus ditumpuk secara terpisah antara dapil satu dengan dapil lainnya.

Sungguh tragis Pemilu kali ini. Pemilu di masa teknologi sudah maju, tapi serasa pemilu di masa purba. Jangankan bicara proyeksi futural, memanfaatkan teknologi untuk manusia, mengikuti perkembangan teknologi saja juga tidak bisa…. Tragis.

Ditulis oleh Taufick Hidayatulloh
Penulis adalah mantan Ketua KPU Cilacap periode 2004-2009



Share on
Facebook! Twitter! Joomla Free PHP
 

Posting komentar anda