Nov
21
2017
Today
Cuaca Cilacap 29-08-2017

Berawan
Suhu : 24-320C
Angin : 5-25 km/jam
Cuaca Maritim

Login

Nama Pengguna Kata sandi
Lupa kata sandi anda? Lupa nama pengguna anda?
Pak Jegun Cetak
Sabtu, 05 Mei 2012 14:39

Pak Jegun seakan terperangkap pada sebuah ruang yang teramat gelap. Pekat begitu mengikat. Sunyi mencekam. Ketakutan semakin menjajah perasaan. Tak lama kemudian, setitik cahaya terlihat di kejauhan. Berada tepat di tengah pandangan. Makin lama cahaya itu makin dekat, makin besar, makin terang.

Meskipun matanya menyipit melawan sinar yang menyilaukan, tapi Pak Jegun dapat mengenali sosok bercahaya itu. Sosok yang terus mendekat dengan raut yang entah bagaimana --sulit digambarkan. Hingga pada sebuah detik, sosok itu sudah tak lagi berjarak, menyatu dengan jiwa Pak Jegun.

Pak, segera bertobatlah!
Pak, jangan mencopet lagi!
Aku tidak rela anakku kau hidupi dengan uang haram. Aku tidak rela!
Jika kau masih melakukannya, Pak, biarlah dia ikut bersamaku...
Biarlah dia ikut bersamaku...
Biarlah dia ikut bersamakuuu...

Suara-suara itu berasal dari satu sumber: kepalanya. Begitu keras menggelegar. Memantul ke tembok, ke langit-langit kamar, ke lampu teplok, ke tanah di kolong dipan, ke lemari usang, hingga kembali lagi ke pikirannya.

"Tidaaaaaak!" Pak Jegun terjaga dari tidurnya. Dia terduduk dengan keringat yang sudah membanjiri wajah, leher, dan dadanya. Sudah lama Pak Jegun tidak memimpikan almarhum istrinya.

"Narsih, maafkan aku. Aku janji tidak akan mencopet lagi. Tapi jangan ambil Tole. Nanti aku sama siapa jika Tole tidak ada?" Pak Jegun bergumam di tengah nafas yang masih tersengal.

Pintu kamar diketuk. Muncul seorang bocah dengan seragam putih merah. Putra namanya. Tapi Pak Jegun biasa memanggilnya Tole. Karena melahirkan anak inilah Narsih tewas. 12 tahun yang lalu mereka tak punya uang untuk membayar bidan. Hanya seorang dukun beranak yang membantu proses persalinan padahal bayinya sungsang.

"Pak, Bapak kenapa kok teriak-teriak?" Bocah itu menghampiri bapaknya, kemudian duduk di tepi ranjang.

"Bapak tidak apa-apa, Le. Kamu sudah mau berangkat sekolah?"

"Iya, Pak. Tapi Tole takut. Tole selalu ditagih sama Pak Guru suruh nglunasin SPP. Katanya besok hari terakhir harus bayar. Kalo tidak, Tole bakal gagal ikut ujian nasional.'' Mata Tole memerah. Dia tertunduk lesu, tak bergairah.

Pak Jegun menarik nafas dalam-dalam. Belum tenang memikirkan mimpi barusan, kini dia harus menghadapi kenyataan yang juga tak kalah menyesakkan dadanya. "Tenang, Le. Bapak janji, hari ini pasti Bapak akan dapatkan uang itu. Belajar saja yang rajin, ya. Jagoan cilik tak pernah takut dengan apapun. Ingat itu!"

Pak jegun memegang bahu anak semata wayangnya untuk menyalurkan kekuatan meski dia sendiri masih gemetaran. Tole menatap mata Pak Jegun lekat-lekat, mencoba memamah dan mencerna perkataan bapaknya. Anak itu mengangguk, lalu mencium tangan bapaknya yang masih bau selimut. Dia melangkah keluar kamar dengan semangat baru, --sepertinya.

Pak Jegun termenung di atas tempat tidur yang tak berkasur. Dia bingung. Baru saja dia berjanji pada ibunya Tole tidak akan mencopet lagi, tapi kebutuhan mendesaknya untuk memilih. Tiba-tiba butiran bening membasahi pipi Pak Jegun. Dia merasakan kerinduan yang teramat sangat pada almarhum Narsih. Tak terasa Pak Jegun terisak, sesenggukan. Setelah mengelap air mata dengan selimutnya, Pak Jegun turun dari ranjang. Kakinya meraih sandal jepit di samping ranjang sebelah kanan.

Pak Jegun melangkah gontai menuju sebuah lemari di pojok kamar sempit itu. Dia membuka pintu lemari dan mengeluarkan sebuah kardus bekas mie instan. Disapunya debu yang menempel di kardus itu dengan tangannya, juga meniupnya. Setelah sedikit terbatuk-batuk, Pak Jegun membopong kardus itu ke atas ranjang, melepaskan perekatnya, kemudian dikeluarkannya satu persatu barang-barang yang ada di dalam.

Pakaian-pakaian Narsih, mukenah, tas tangan berwarna hitam, dan sebuah buku tebal yang terbungkus jilbab berwarna merah. Pak Jegun tidak berani membuka bungkusan itu. Dia tau isinya. Al Quran. Al Quran yang dulu dia jadikan mas kawin kini tak pernah disentuhnya. Jiwa Pak Jegun merasa terlalu kotor untuk -bahkan- sekedar menatap kitab suci itu. Segera dikesampingkannya pikiran yang tidak-tidak, termasuk juga penyesalan. Ah, nanti saja setelah ini. Itu janjinya dalam hati.

Dengan degup jantung yang kian kencang, tangan Pak Jegun memungut benda terakhir yang tertelungkup di dasar kardus, foto Narsih sewaktu masih muda. Foto yang dibingkai figura sederhana, kado pernikahan dari salah satu temannya dulu.

Kini tangan kiri Pak Jegun sudah memegang foto ukuran 4R itu. Sedang telunjuk tangan kanannya seakan mengelus pipi Narsih yang begitu halus. Rambut ikal dan baju bermotif bunga-bunga yang dikenakan Narsih membuatnya terlihat sangat cantik. Meski foto itu hanya dwi warna, hitam dan putih.

"Sih, mungkin jika kamu di sampingku, aku takkan selemah ini sekarang. Maafkan aku tidak bisa menjadi bapak yang baik untuk Tole. Tapi tolong maklumilah. Aku tak punya keahlian apa-apa selain mencopet. Dan aku janji, ini benar-benar yang terakhir. Demi Tole, anak kita. Aku tak punya pilihan lain. Dan janjiku pagi tadi, aku cabut lagi. Kamu jangan marah, ya! Aku bersumpah, ini yang terakhir. Percayalah...!"

Pak Jegun memandangi foto itu seakan Narsih sedang ada di depannya. Menatapnya dengan mata yang entah penuh kebencian atau kasihan. Yang jelas wajah wanita itu tetap manis berhias senyum.

Pak Jegun tak mau berlama-lama meratapi nasibnya. Secepatnya dia beranjak dan bersiap-siap untuk beraksi. Barang-barang itu dibiarkannya tetap berantakan. Dia hanya mengambil tas tangan yang tak ada isinya itu kemudian berjalan ke pasar.

Dengan jaket hitam, sepatu yang sudah bolong di ujung jempol, celana jeans yang robek-robek di paha dan lututnya, serta dengan topi andalannya, Pak Jegun memasuki kerumunan pedagang dan pembeli yang berjejalan di Pasar Pagi, tak jauh dari rumahnya.Di balik topi, matanya melirik ke kanan dan ke kiri mencari mangsa. Tangan kiri dimasukkannya ke saku celana. Sedangkan tangan kanan dibiarkan melenggang sambil menggenggam tas kosong peninggalan istrinya.

Bruukk.

Tiba-tiba langkahnya terhenti. Dia menabrak seorang nenek tua yang berjalan membungkuk menekuri tanah. Nenek tua itu tak melihat di depan ada Pak Jegun yang juga matanya sedang jelalatan ke segala arah.

"Eh, maaf. Maaf, Nek. Apa Nenek tidak apa-apa?" Pak Jegun memegangi tubuh renta yang hampir jatuh itu. Setelah orang tua di depannya sudah mampu berdiri sempurna, Pak Jegun membantu memunguti barang bawaan Si Nenek yang berjatuhan di tanah.

"Tidak apa-apa, Nak. Setiap perbuatan pasti akan ada balasannya. Semoga kebaikanmu ini juga dibalas oleh Yang Kuasa, Nak." Nenek itu menerima uluran bungkusan plastik miliknya sendiri dari tangan Pak Jegun.

"Iya, Nek. Tapi aku harus buru-buru. Permisi ya, Nek."

Pak Jegun segera berlalu meninggalkan nenek tua itu. Dia tak peduli lagi bagaimana keadaan orang yang baru ditabraknya tanpa sengaja. Dengan langkah cepat, dia berjalan menuju toilet di belakang pasar.

Di dalam toilet, Pak Jegun membuka dompet kecil hasil tangan jahilnya. Matanya terbelalak. Ternyata dompet itu berisi sebuah kalung emas. Di dalamnya juga ada selembar kertas yang menyatakan bahwa kalung itu beratnya 10gram. Senyumnya menyeringai kegirangan. Hatinya bersyukur pada Tuhan.

Setelah memasukkan dompet itu ke dalam tas istrinya, Pak Jegun menenangkan diri supaya berkesan tak terjadi apa-apa. Dia keluar dari toilet sambil menenteng tas dan juga jaket beserta topi yang telah dilepaskannya. Kedua benda yang tak lagi berharga kini dibuangnya ke tong sampah. Dia sudah tak membutuhkan jaket dan topi itu lagi esok hari. Juga supaya jika nanti bertemu nenek itu di jalan, dia tak mengenali Pak Jegun.

Langkah kaki Pak Jegun berubah ringan. Dia berjalan seakan tak ada beban. Santai, sambil bersiul pelan. Terbayang wajah Tole yang sumringah menerima uang hasil penjualan emas itu nanti. Tapi dia tak berani membayangkan wajah almarhum istrinya. Semoga Narsih di sana memaklumi, harapnya.

Saat sedang asyik-asyiknya berjalan, tiba-tiba dari belakang ada yang menyerobot tas hitam miliknya. Pak Jegun segera membalikkan badan. Matanya langsung menangkap orang yang menjambret tasnya. Ah, bukan orang dewasa rupanya. Dia hanya seorang bocah. Bocah itu memakai topi dan jaket lusuh yang kedodoran.

"Jambreeett.... Jambreeett.... Woy, bocah sialan itu menjambret tasku. Cepat tangkap dia!!!" Pak Jegun berteriak sambil berlari mengejar penjambret cilik itu. Sontak orang-orang di pasar menjadi ikut kalang kabut. Beberapa laki-laki berlari mengikuti Pak Jegun.

Tapi anak itu lebih gesit. Dia seolah tidak takut apapun. Apa saja, siapa saja yang ada di depannya pasti diterjangnya. Dia menyusuri jalan setapak sempit di pasar dengan langkah seribu. Ibu-ibu, mbak-mbak, tante-tante, bahkan nenek-nenek ditabraknya hingga terjungkal ke dagangan buah-buahan, sayur-sayuran, ataupun ke tumpukan pinang. Beberapa orang dari gerombolan laki-laki yang berlari ada yang berhenti menolong wanita-wanita itu. Tapi tidak dengan Pak Jegun.

"Woy, kenapa kalian diam saja? Cepat cegat bocah keparat itu!"
Pak Jegun berteriak sekencang-kencangnya, lebih kencang dari larinya yang sudah mulai kelelahan. Dia berteriak supaya orang-orang yang jauh ada di depannya segera tahu kalau bocah itu adalah penjambret dan harus diringkus. Tapi orang-orang di sana hanya memandang kebingungan. Mereka kebanyakan adalah perempuan. Lebih baik menyingkir ke pinggir daripada menjadi korban terjangan bocah edan itu.

Penjambret cilik melihat pintu keluar semakin dekat. Cahaya mentari memancar dari pintu itu, masuk ke celah-celah pasar yang pengap dan bau busuk. Larinya makin dipercepat. Sedikit lagi mungkin dia akan selamat. 5 meter lagi. Ah, 2 meter lagi. Beberapa langkah lagi, dan....

PPRUUAAAKNNGGGG!!!
Sebuah bus antar kota berhasil menerjang bocah yang Pak Jegun menyebutnya sialan itu. Dia terpental jauh. Tas tangan hitam yang baru saja didapatkannya dan topi yang tadi pagi dipungutnya dari tong sampah, kini melayang tinggi. Kepalanya keras membentur aspal. Tubuhnya basah bersimbah keringat bercampur darah.

Bis berhenti. Banyak sekali yang mengerumuni bocah malang itu. Tapi tak ada yang berani menyentuhnya. Mereka tidak mau buang-buang waktu jika harus berurusan dengan polisi nantinya.

Pak Jegun berdiri di tepi jalan raya depan pasar. Nafasnya tersengal hebat. Selama menjadi pencopet, dia selalu tak ketahuan sehingga tak pernah berlari hingga ngos-ngosan seperti sekarang ini.

Kini perhatiannya tertuju pada kerumunan di seberang jalan. Sudah tak terpikir lagi tas tangan hitam milik alamarhum istrinya entah jatuh di mana. Atau mungkin malah sudah ada yang memungutnya. Ah, pasti banyak orang yang berusaha mencari kesempatan dalam kesempitan.

Pak Jegun menyeberang jalan sambil menoleh ke kanan dan ke kiri. Dia tak mau nasibnya serupa dengan anak itu. "Minggir...minggir.... Biar aku yang menangani anak sialan itu. Ternyata nasibnya benar-benar sial, ya?!" Kedua tangan Pak Jegung menyingkir-nyingkirkan orang-orang yang sudah ramai mengerumuni.

Saat sampai di depan anak itu persis, untuk beberapa detik Pak Jegun merasa jantungnya berhenti berdetak, nafasnya berhenti berhembus, dan darahnya berhenti mengalir.

"Toleeee......!"
Sejurus kemudian Pak Jegun mendekati dan merangkul Tole di pangkuannya. Darah terus keluar dari kepala, telinga, dan mulut Tole. Kuping Pak Jegung ditempelkan ke dada Tole yang berbalut jaket hitam lusuh yang dibuangnya tadi pagi. Sudah tak bernyawa.
Kepala bapak malang itu mendongak ke langit. Dia menangis dan berteriak sejadi-jadinya ke udara.
"Aaaarrrgggghhh... Narsiiiih... Kenapa kau ambil anakku, Narsiiih....?! Kembalikan anakku! KEMBALIKAAAANN!!"

TAMAT

Adiraja - Adipala, 2011
(Armi Leanis)



Share on
Facebook! Twitter! Joomla Free PHP