Nov
01
2014
Today

Cuaca Cilacap 3-9-2014

Cerah
Suhu : 22-280C
Angin : 5-27 km/jam
Cuaca Maritim KLIK Disini

Login

Nama Pengguna Kata sandi
Lupa kata sandi anda? Lupa nama pengguna anda?
Orang Gila Cetak E-mail
Oleh Wagino   
Rabu, 09 Mei 2012 21:37

Labu berlari seakan berkejaran dengan matahari yang mulai meninggi. Ke arah terbitnya, langkah kaki nampak kokoh. Jauh dari rintih. Sandal Daimatu yang dipakainya sudah terlihat pipih di bagian tumit. Warnanya memudar. Putih pucat. Sedang kaos yang dulunya mungkin putih polos, kini berubah kuning kehitaman. Juga robek di bagian perut dan ketiak. Untungnya, Labu masih ingat untuk memakai celana. Kolor hitam kusam yang panjangnya tak melebihi lutut, dengan tiga garis putih berbaris dari ujung pinggang ke bawah, pada sisi kanan kiri.

Di jalan sekitar RITA Pasaraya, karena keramaian orang berlalu lalang, juga sepeda motor-sepeda motor yang diparkir di pinggir jalan, Labu memelankan larinya. Namun tetap dengan gaya yang tak jauh berbeda :jingkrak-jingkrak, berputar-putar, juga teriak-teriak.

"Wooyy... Saudara-saudaraku sebangsa dan setanah air tercinta Indonesia Rayaaaa, pada percaya nggak seeeh kalau aku ini gilaaa? Bapak-bapak, ibu-ibu, mbak-mbak, percaya yaaa... Kalian harus percaya aku gilaa, wooy, aku gilaa.. gilaaaa.. gilaaaa..."

Suaranya dilengkingkan sekeras-kerasnya, dengan nada setinggi-tingginya. Menyebar ke udara dibarengi dengan bau mulut yang aromanya entah bagaimana. Orang-orang yang dilewatinya menutup hidung seketika. Beberapa juga mengerutkan dahi. Mereka heran ada orang gila yang jujur mengakui bahwa dia gila. Terlalu heran sampai-sampai mereka terus memandangi Labu yang telah menjauh. Kedua tangannya dilambai-lambaikan bagai kupu-kupu yang ingin terbang. Kaki meloncat-loncat seperti katak. Dan teriakannya masih sama :AKU GILA!

Sampai di tepi pertigaan jalan S. Parman, langkahnya terhenti. Di sudut kiri tikungan, kepalanya mendongak tinggi-tinggi. Badannya ditegapkan seperti ABRI.

"HORMAAAAAAAATT GRAKK"

Labu memberi aba-aba pada diri sendiri. Teriakannya lantang seperti komandan betulan. Tanpa berpikir lama, Labu hormat pada bendera merah putih yang berkibar di halaman gedung polisi militer. Karena tak ada yang bernyanyi, Labu berinisiatif untuk menyanyikan lagi Indonesia Raya sendiri.

Indonesia
Tanah airku
Tanah tumpah darahku
Di sinilah
Aku berdiri
Jaadi...
Jaadi...
Jadi pandu ibuku

"Ah, lupa lagunya. Sudahlah, persetan dengan merah putih. Bendera itu hanya simbol kemerdekaan belaka. Tapi nyatanya?" Labu bergumam seperti orang waras saja. Dia tidak tahu kalau tadi polisi militer yang ada di pos jaga hampir saja bangkit sebelum menyadari bahwa Labu gila.

Labu kembali berjalan menyusuri trotoar dengan riang. Saat tiba di pertigaan pasar Damalang, Labu menghentikan langkahnya. Dia berhenti karena lampu lalu lintas menyala merah. Padahal beberapa sepeda motor ada yang meluncur saja. Mungkin pengendaranya buta.

Di sepanjang jalan Gatot Subroto, Labu masih jingkrak-jingkrak seperti tadi. Tapi kini dia tak lagi berteriak. Hanya bernyanyi lagu yang dia ciptakan sendiri.

Sya na na na na
Aku gila
Sya na na na na
kamu gila
Sya na na na na
Semua gila
Sya na na na na
Ngaku saja


***
Setelah berkilo-kilo meter berjalan, air mukanya mendadak lebih sumringah. Labu sudah berada di depan pasar Tanjung. Itu berarti tinggal beberapa puluh meter lagi dia sampai di terminal bus Cilacap.

Di dalam terminal, sikapnya berubah drastis. Labu berjalan anggun dan lemah gemulai menuju pintu keluar. Melewati bus-bus dan angkot-angkot yang berjajar rapi menunggu antrian berangkat. Dia paham bahwa tempat itu terlalu ra...mai untuk menunjukkan kegilaannya. Labu tidak ingin semua orang memandangnya heran seperti jika melihat Gayus yang nyasar di pulau Dewata.

Sebuah bus jurusan Purwokerto dengan label Po. SAWUNGGALIH melintas pelan di depannya. Tanpa aba-aba, Labu melompat naik ke dalam bus melalui pintu depan. Kondektur yang berdiri di pintu belakang biasa saja. Dia tidak curiga pada penampilan Labu. Mungkin kondektur mengira Labu adalah kuli panggul yang biasa mencari nafkah di pasar.

Meski banyak bangku kosong di dalam bis, Labu memilih tetap berdiri di ambang pintu. Dia malah membantu tugas kondektur menaik-turunkan penumpang beserta barang-barang yang mereka bawa.

"Ya kiri kiri Adipala kiriii..."

Beberapa penumpang turun di terminal Adipala. Ada juga yang naik. Namun setiap kali penumpang melewati Labu, mereka harus menutup hidung rapat-rapat. HARUS!

"Wooy, sopir tolol! Tidak lihat itu lampu merah ya? Kenapa jalan terus, woy?!!"

Hampir saja Labu melontarkan kalimat itu saat sampai di perempatan Air Mancur, Kroya. Tapi urung mengingat tujuannya masih jauh. Dia tidak ingin diturunkan di t...engah jalan sebelum mencapai tujuan. Maka Labu pun tetap mengikuti aturan main pak sopir meski tak sesuai aturan.

Beberapa kampung telah terlewati. Akhirnya Labu sampai juga di tempat yang diimpi-impikannya selama ini.

"Kiri kiri kiri...."

Labu memukul-mukulkan telapak tangan ke pintu kaca. Lalu pak sopir dengan segera menghentikan laju busnya. Kondektur yang berada di pintu belakang pun turun untuk meminta bayaran.

Namun Labu keburu lari menjauhi bus seraya berteriak, "Hahahahaaa kalian bodoh sekali tidak tahu kalau aku gilaaa... Wheee..aku gila, bodoh! Ye.. ye.. yee..!"

Setelah dirasa cukup aman, Labu dengan gembiranya memukul-mukul pantatnya sendiri yang dia condongkan ke belakang. Gayanya seolah mencaci kebodohan kondektur yang telah kecolongan.

"Heey... Jangan larii, bangsat!"

"Sudah..sudah.. Tidak usah mengurusi orang gila. Cepat naik!" Pak Sopir berteriak dari kursi kemudinya, mencegah kondektur yang hendak berlari mengejar Labu.

***
...

Labu memasuki kawasan Rumah Sakit Umum Daerah Banyumas. Di halaman RSUD itu, dia kembali melancarkan aksinya.

"Wahai pak bupaatiii, pak camaaat, pak DPR, pak lurah, pak presideen.... Ayo ikut gila bersama sayaaa.. Tidak usah malu-maluuu, heeyy. Akui saja kalian gila seperti saya. Ha ha ha.. Mari sama-sama bergila ria, wahai bapak wakil rakyat. Ha ha ha..."

Teriakan Labu membuat para pengunjung yang berada di halaman rumah sakit terheran-heran. Tak sedikit yang memilih menjauh karena ketakutan.

Dua orang petugas keamanan mendekati Labu. Lalu menyergap kedua lengannya yang dari tadi dilambai-lambaikan.

"Hwaaaaa...apaaa? Lepaskaaann! Aku memang gila, tapi lepaaskaaan..."

Labu meronta sekuat-kuatnya. Namun tenaganya tak seberapa karena dari pagi perutnya belum diisi apa-apa.

"Aji, cepat panggil dokter!"

Seorang petugas menyatukan kedua tangan Labu di belakang pinggang dan memegangnya erat-erat. Sedang seorang lagi berlari memanggil dokter. Selang beberapa menit, 3 orang berseragam putih menghampiri mereka berdu...a. Dua orang diantaranya memegangi tangan Labu menggantikan petugas keamanan itu.

"Horeeee.... Dokter gila datang, horeee...."

Meski tangannya sudah tak mampu berkutik, tapi Labu masih bisa jingkrak-jingkrak. Malahan dia sengaja mengangkat kedua kakinya berlama-lama agar bisa bergelantungan dengan nyaman. Dua orang berseragam putih itu terpaksa mengangkat tubuh Labu yang beratnya hampir mencapai sekwintal.

"Hwaaaaaa...... Lepaskaaaan!!!"

Tiba-tiba Labu seperti orang kesetanan. Dia kerahkan seluruh sisa tenaganya untuk melepaskan diri. Dan hasilnya pun tak sia-sia, cengkeraman di kedua lengannya telah terlepas.

Kali ini Labu tidak melarikan diri. Dia memilih bersembunyi di belakang dokter lalu berlagak kalem lagi.

"Jangan kasar-kasar dong, Mas. Aku orang gila yang jinak kok. Iya kan, dok?"

Dengan isyarat kerlingan mata dari sang dokter. Dua orang itu tidak jadi menyergap Labu kembali. Mereka hanya berjaga-jaga di belakangnya.

"Ya sudah, sekarang kita ke kamar barumu."

Labu manggut-manggut menerima ajakan dokter. Keduanya berjalan berdampingan diikuti dua orang yang lain.

BREETTT

Tiba-tiba Labu menyerobot kartu tanda pengenal yang tersemat di saku dada kiri sang dokter. Sesaat dokter terkejut, hanya sesaat.

"Te-O-TO-Te-O-TO... TOTO. Oh, toto namanya Dokter, ya?" Labu mengeja nama yang yang tertulis di tanda pe...ngenal itu.

"Iya, nama saya Toto. Kok kamu bisa baca?"

"Terus ini foto siapa, dok? Kok ganteng?"

"Ah, dasar orang gila. Ya pasti foto saya lah. Memangnya sekarang saya jelek?" Dokter bergumam pelan, lalu melanjutkan, "Itu foto adik saya. Dia memang ganteng."

Labu manggut-manggut kembali. Sedang dua orang di belakangnya sebisa mungkin menahan tawa.

"Lalu mereka namanya siapa, dok?" Labu menunjuk ke arah dua orang yang mengikutinya.

"Mereka Denny dan Udo."

"Oh, kok mereka bodoh ya, dok? Nggak kaya Dokter gila Toto yang pinter. Masa aku disangka gila? Kan aku memang gila?" Labu semakin ngelantur.
Sontak batin Udo dan Denny menjadi keki telah dibilang bodoh, apalagi oleh seorang gila. Tapi mau bagaimana lagi? Menanggapinya tentu percuma. Maka mereka hanya bertatapan menyembunyikan kedongkolan masing-masing.

***

Akhirnya mereka sampai juga di deretan kamar pasien khusus sakit jiwa. Pada atap korong menggantung sebuah papan bertuliskan RUANG SAKURA.
Di depan pintu kamar paling ujung,

"Ini kamar barumu. Silakan masuk." Dokter itu berbicara santun seperti pada orang yang waras saja.

"Mimii...mimi cucu." Sebelum masuk, Labu mengelus-elus perut buncitnya. Mungkin itu menandakan dia lapar.

"Iya, nanti kami kirimkan makanan untukmu. Sekarang cepat masuk!" Suara Dokter dipertegas. Labu nurut saja seperti kerbau yang dicucuk hidungnya.

"Udo, cepat kunci pintunya. Lalu suruh orang untuk mengantarkan makanan. Nanti sore kita lakukan pemeriksaan orang gila yang aneh ini."

"Baik, Dok."

Di dalam ruangan terdapat dua ranjang yang berjejeran. Di antara kedua ranjang itu tengah duduk di lantai seorang gila pula. Matanya menerawang kosong dengan dua jempol tangan dikulum dalam mulutnya. Labu mendekat dan duduk di sampingnya. Dia menarik dan menghembuskan nafas dalam-dalam seakan ingin membuang kelelahan.

"Hey, kamu gila juga ya? Namamu siapa?" Labu menoleh memandang orang gila itu lekat-lekat. Kini mimiknya berubah 180 derajat. Sangat serius.

"Ah, lupa. Kamu kan gila. Bagaimana kalau saya panggil kamu Arif? Semoga walaupun gila, kamu punya hati yang arif bijaksana. Hhhh..." Labu mendesah. Sedang yang baru saja diberi nama Arif terlihat senyum-senyum sendiri seakan mengerti.

Sambil bersandar di dinding, Labu melipat kedua kakinya, lalu membenamkan wajahnya di balik lutut. Tak terasa air matanya telah meleleh-leleh hingga menetes-netes di lantai.

"Arif, asal kamu tahu saja, sebenarnya saya ini tidak gila. Saya hanya berpura-pura gila. Saya bosan hidup sebagai orang waras yang di mana-mana selalu ditindas hanya karena saya idealis. Mereka, para pemimpin kita adalah penindas yang gila. Tapi tak ada satupun yang menyadarinya." Labu bergumam seraya sesenggukan.

 

TAMAT


Adiraja - Adipala, 2012
(Armi S Leanis)



Share on
Facebook! Twitter! Joomla Free PHP
 
Sastra lainnya :