Jun
26
2022
Today

Cuaca Cilacap 21-06-2022

Hujan
Suhu : 24-300C
Angin : 5-10 km/jam
Cuaca Maritim

Login

Nama Pengguna Kata sandi
Lupa kata sandi anda? Lupa nama pengguna anda?
Manisnya Bengkoang Gandrung Rezeki Bagi Pedagang Musiman
Oleh Wagino   
Minggu, 27 Juli 2008 16:23

GANDRUNGMANGU, (CilacapMedia.com) – Mendengar nama buah bengkoang, kita pasti akan teringat dengan Prembun, salah satu sentra buah yang juga digunakan sebagai bahan baku kosmetik di Kabupaten Kebumen. Di Cilacap sendiri beberapa tahun belakangan ini memiliki daerah yang hampir mirip dengan Prembun yakni Gandrungmangu. Bedanya di Prembun hasil buah bengkoang hampir tidak mengenal musim, sedang Gandrung buah tersebut berlimpah saat musim kemarau saja.

Seperti lazimnya saat musim buah lainnya, ketika musim bengkoang tiba pedagang musiman pun bermunculan. Bila kita melintasi jalan raya Gandrungmangu dari arah Cilacap menuju Sidareja ataupun sebaliknya. Disepanjang dikanan-kiri jalan banyak kita jumpai pedagang bengkoang musiman. Jarak diantara pedagang satu dengan yang lain tidak terlampau jauh antara 20 hingga 50 meter.

Partini (50), salah seorang pedagang sekaligus petani bengkoang asal Desa Bulusari, menuturkan, berjualan bengkoang saat musim kemarau sudah dijalani selama tiga tahun.

“Saya jualan bengkoang dari tahun 2005 hasil dari kebun sendiri. Tapi kalau punya sendiri sudah habis, saya membeli dari petani lain,” tuturnya kepada CilacapMedia.com, Minggu (27/7).

Ia menjelaskan, harga jual buah bengkoang relatif tinggi, rata-rata Rp 5.000 per gedheng (ikat, red). Dalam satu gedheng beratnya rata-rata 1,5 kilogram.

Menurutnya, buah bengkoang Gandrungmangu lebih manis dan ukurannya lebih kecil bila dibanding dengan bengkoang Prembun. Bengkoang Prembun tampak putih bersih karena dicuci. Meski bengkoang Gandrung tidak dicuci, namun kondisinya relatif bersih dari tanah.

Bahkan, kata Partini, tidak jarang banyak pedagang dari Prembun yang datang ke Gandrungmangu untuk membeli bengkoang Gandrung. 

Dalam sehari Partini rata-rata mampu menjual hingga 100 gedheng. Bila buah bengkoang yang dijual hasil membeli dari petani lain, keuntungan yang didapat dari 100 gedheng mencapai Rp 100.000. Sementara Partini bertugas menjual dengan menggelar dagangan di pinggir jalan, sedang suaminya berburu bengkoang.

Tanah Cocok Untuk Umbi-Umbian

Awalnya petani di wilayah Desa Bulusari dan sekitarnya menanam bengkoang, pasalnya tanah yang ada hanya cocok untuk umbi-umbian. Sehingga setelah turun temurun menanam ubi kayu dan singkong akhirnya para petani mencoba menanam bengkoang dan bertahan hingga sekarang.

Suparman, suami Partini menanam bengkoang diatas lahan tegalan seluas 1.400 meter persegi. Dari luas lahan tersebut dapat dihasilkan bengkoang sekitar 1.500 kilogram buah bengkoang. Buah bengkoang dapat dipanen saat usia tanaman mencapai 100 hari.

Meskipun hasil bengkoang Gandrung berlimpah, namun Suparman menyayangkan, pasalnya hingga saat ini belum ada wadah petani bengkoang yang berfungsi menyalurkan hasil panenan.

“Bengkoang Gandrung masih sekedar untuk dimakan saja belum untuk dipasok ke perusahaan kosmetik seperti bengkoang Prembun. Kita kesulitan menjual ke perusahaan kalau tidak ada wadah seperti koperasi atau semacamnya,” kata Suparman.

Selain itu, menurut dia, tidak adanya petugas penyuluh lapangan (PPL) dari dinas pertanian petani merasa kesulitan bagaimana cara bertanam yang baik serta mengatur jadwal tanam antara bengkoang dengan padi serta palawija.

Hasil bumi berupa buah bengkoang yang menjanjikan dan berpotensi menjadi produk andalan namun sayang belum dilirik oleh Pemerintah Kabupaten Cilacap untuk dikembangkan dan melakukan pembinaan.