Mei
17
2022
Today

Cuaca Cilacap 04-05-2022

Hujan
Suhu : 24-300C
Angin : 5-10 km/jam
Cuaca Maritim

Login

Nama Pengguna Kata sandi
Lupa kata sandi anda? Lupa nama pengguna anda?
Atasi Polusi, Pengrajin Tahu Manfaatkan Limbah Cair Jadi Biogas
Oleh Wagino   
Kamis, 08 Januari 2009 17:25

CILACAP, (Cimed) – Meski tahu adalah salah satu makanan tradisional yang biasa dikonsumsi setiap hari oleh orang Indonesia namun tidak jarang limbah yang dihasilkan industri tahu dikeluhkan warga sekitar. Bahkan bisa berujung pada aksi menutup usaha tersebut.

Bagaimana tidak, bila proses pengolahan tidak ditangani dengan baik, selain menimbulkan bau tak sedap, limbah tahu juga dapat menyebabkan dampak negatif seperti polusi air, sumber penyakit, meningkatkan pertumbuhan nyamuk, dan menurunkan estetika lingkungan sekitar. Lebih-lebih bila musim kemarau tiba, bau tidak sedap semakin menyengat, bahkan sampai mengganggu pernafasan.

Padahal proses produksi tahu menghasilkan dua jenis limbah, limbah padat dan limbah cair. Untuk limbah padat umumnya dijadikan bahan pakan ternak seperti sapi dan babi. Sementara itu untuk limbah cair masih menemui kendala, karena banyak pabrik tahu skala rumah tangga di Cilacap khususnya tidak memiliki proses pengolahan limbah cair.

Hadi Susanto Warsono, salah satu pengrajin tahu di Jalan Salam RT 04/RW 06, Gumilir, menuturkan, upaya mengatasi polusi terhadap lingkungan yang ditimbulkan limbah ini dengan menggunakan obat pengurang bau.

“Jalan satu-satunya untuk menghindari konflik dengan lingkungan akibat limbah tahu ya dengan menggunakan obat pengurang bau,” tutur Warsono pemilik pabrik tahu yang telah beroperasi sejak tahun 1989.

Namun usaha tersebut dinilai tidak efektif karena limbah cair tidak menghasilkan nilai tambah malah harus mengeluarkan biaya tambahan untuk pembelian obat tersebut. Selain itu keluhan warga akibat aroma yang kurang sedap dari limbah cair pabrik tahu miliknya tak kunjung reda.

Mengatasi hal itu, Kelompok Pengrajin Tahu Karyasari yang berada dibawah binaan Yayasan Pemuda Pelajar Peduli Lingkungan (Pepeling) bekerjasama dengan PT Pertamina UP IV Cilacap dan dinas terkait berupaya mencari solusi penanganan limbah tahu tersebut. Yakni dengan memanfaatkan limbah pabriknya menjadi bahan bakar pengganti energi (biogas).

“Selain mengatasi pencemaran lingkungan, pemanfaatan limbah tahu cair jadi biogas juga membantu mengurangi beban rumah tangga karena harga bbm yang cenderung terus naik,” kata Ketua Pepeling, Herman Sukamto kepada wartawan saat meninjau lokasi pengolahan biogas di pabrik tahu milik Warsono, Kamis (8/1).

Design sistem pengolahan limbah tahu cair menjadi biogas tersebut, kata dia, merupakan hasil rancangannya sendiri setelah mengadakan studi banding ke Semarang dan Boyolali,

“Sistem ini sudah melalui ujicoba selama kurang lebih selama tiga tahun. Hasil analisis Pertamina, biogas mengandung 87,9 persen methanol,” katanya.

Secara singkat dia menjelaskan, teknologi yang digunakan sangat sederhana yakni dengan membuat bak penampungan semacam septicktank. Limbah cair, kata dia, dialirkan kedalam bak pendingin, setelah dingin kemudian masuk ke sistem biogas. Dari sistem ini baru dihasilkan gas yang bisa digunakan untuk memasak.

“Teknologi ini sangat murah dan dapat terjangkau masyarakat. Satu unit membutuhkan biaya sekitar Rp 7 juta,” terangnya.

Meski demikian, tambah dia, saat ini masih tahap uji coba, biogas dari limbah tahu cair baru bisa dihasilkan dan dipakai setelah tiga bulan.

Sementara itu dengan penerapan teknologi baru tersebut meski baru ujicoba, Warsono tidak lagi dipusingkan dengan aroma menyengat limbah cair tahu dari pabrik miliknya.

“Sekarang saya sudah tenang karena bau sudah berkurang. Ditambah lagi nantinya saya bisa menghemat pengeluaran untuk rumah tangga karena untuk masak cukup dengan biogas,” imbuhnya.