Mei
19
2022
Today

Cuaca Cilacap 04-05-2022

Hujan
Suhu : 24-300C
Angin : 5-10 km/jam
Cuaca Maritim

Login

Nama Pengguna Kata sandi
Lupa kata sandi anda? Lupa nama pengguna anda?
Ansor Dan Sang Nusakambangan Cetak
Senin, 28 Juli 2008 21:29

MASIH di bangku SD saat untuk kali pertamanya saya ke Tjlatjap (baca : kota Cilacap). “Plesir!” kata mbah putri dan beberapa anggota rombongan membujuk. Ungkapan itu tentu saja menyenangkan hati kanak-kanak saya, meski ternyata bukan plesir. Tetapi kondangan.

Masih cukup pagi, tetapi bis yang kami tumpangi dari Kroya berjalan pelan. Sepanjang perjalanan saya tak pernah melepaskan pemandangan kanan kiri. Menjelang Koplak atau juga disebut stanplat (terminal, red) bis Tjlatjap, sekilas-sekilas terlihat sebuah sosok. Seperti apakah jika dari dekat? Tanya saya dalam hati.

Tanpa terasa bis telah sampai di koplak bis. Sekarang tempat ini telah berubah menjadi taman dan pagi itu kota Cilacap sangat menawan. Bangunan-bangunan tua yang berwibawa. Pohon-pohon besar di pinggir jalan menambah teduh suasana pagi. Rombongan lalu naik dua dokar yang telah “menunggu”. Dari stanplat bis kami menyusuri Jalan Jenderal Sudirman ke arah barat. Tidak lama kemudian dokar belok kiri. Dan ah, sosok yang tadi sekilas-sekilas terlihat, kini makin dekat dan jelas.

“Kuwé sing mau keton kan bis!” kata pak Dé tanpa saya tanya.

Mungkin karena melihat saya kamitenggengen (terkagum-kagum,red). Benar, pagi itu sosok itu terlihat sangat agung. Sangat tenang, seperti binatang raksasa yang sedang pulas. Pendek kata seluruh perasaan saya meruah, campur aduk jadi satu.

BERTAHUN-tahun kemudian sosok itu menjadi sesuatu yang rutin, biasa. Boleh jadi tidak hanya bagi saya yang hampir setiap hari melihatnya. Terkadang kembali menjadi sosok istimewa, jika saya membutuhkan keberadaannya, menginginkan “kehadiran”nya (sebagai pelindung dari keganasan segara kidul). Kemudian jika kebutuhan saya tadi menjadi reda, meski bagi kebanyakan kebaradaannya tetap istimewa dan cukup menentukan berlangsung tidaknya kehidupan di kota Cilacap dan sekitarnya, sosok itu pun kembali rutin, kembali biasa dan tidak perlu saya pedulikan lagi eksistensinya.

Saya percaya, di bawah sadarnya sebagian besar menungsa Tjlatjap tetap mengakui keberadaannya sebagai sosok yang turut menentukan keunikan, keindahan dan keberlangsungan kota Cilacap dan sekitarnya. Saya yakin, sebagian besar menungsa Tjlatjap pernah mengandaikan bagaimana jika sosok itu perlahan-lahan hilang dari peta, dari hadapan kota Cilacap, dan apa akibatnya, terutama bagi kota Cilacap itu sendiri. Agaknya hubungan batin “menungsa” Tjlatjap dengan sosok itu sedemikian rupa, sehingga mereka tidak akan bertindak secara berlebihan terhadap sosok itu. Mereka tidak akan melakukan atau membiarkan gangguan keseimbangan sosok itu. Siapakah sosok itu?

BELIAU itulah Sang Nusakambangan. Sebuah entitas (bahkan organisme) yang ditakdirkan untuk melindungi khususnya kota Cilacap dan sekitarnya. Dan hari ini tiba-tiba beliau kembali hadir dari bawah sadar saya.

Sederhana saja. Nusakambangan (1994), satu karya puisi Ansor Basuki Balasikh, setelah membacanya kembali, sepertinya sedang mengingatkan saya, yang lama melupakan keberadaan beliau, setelah Tsunami yang meluluhlantakkan sebagian pantai Kebumen, Cilacap dan Pangandaran berlalu cukup lama. Ya, puisi itu selalu merekatkan kembali hubungan batin saya dengan beliau yang mulai rantas.


Begini Ansor berujar dalam puisinya itu :

aku mendengar jerit burung yang
tersangkut pohon hutan
dan sekelompok camar terbang bebas
di atas lautan
mataku berputaran di atas kapal
yang melaju sepanjang sungai
di antara pohon-pohon bakau dan
mulut-mulut ikan
langit luas membentang di atasku
masih ada matahari
masih ada bulan..


Ya, dengan baris-baris di atas Ansor seperti barisan burung putih yang terbang di atas perahu-perahu kecil yang menyusuri celah-celah hutan bakau dekat Nusakambangan. Sayang burung itu terluka. Keseimbangan Nusakambangan pun terganggu. Di hati kita Nusakambangan dan kehidupannya kembali oleng.

DENGAN demikian Ansor telah melaksanakan salah satu tugas sastrawan : “Melawan lupa” sebagaimana didengungkan novelis Ceko, Milan Kundera, yang lama tinggal di Perancis. Adakah Ansor memang sadar dengan tugasnya sebagai sastrawan? Terlepas dari itu penyair Ansor (lahir di Kroya, Cilacap, 19 Nopember 1967) pada dasarnya memang sosok yang kritis. Banyak puisi-puisinya yang menggambarkan sikapnya terhadap ketimpangan-ketimpangan yang terjadi di sekitarnya, meski beberapa ada yang terkesan main-main. Ungkapan-ungkapannya sederhana dan sedikit telanjang.

Memang setelah pada tahun 1996 diundang Dewan Kesenian Jakarta untuk mengikuti Mimbar Penyair Abad 21 di Taman Ismail Marzuki, intensitas penciptaan Ansor cukup menurun. Banyak waktunya habis untuk menciptakan karya-karya yang “sambil lalu” dan terkesan hanya untuk menjaga “nafas” kepenyairannya. Barangkali Ansor memang harus banyak belajar menjadi muda kembali. Mengembalikan “keseriusannya”, sehingga bisa sejajar dengan penyair-penyair Cilacap generasi kemudian, seperti Faisal Kamandobat, IH Antasalam, Alfiyan Harfi, Dewi Elia Saodah, Hizi Firmansyah, Abdulloh Amir dan beberapa lagi. Mereka telah memarakkan sastra Indonesia dengan karya dan kesungguhan. Tentu saja ini tantangan buat saya juga.

Artikel dikirim oleh Badruddin Emce

penyair dan komponen Tjlatjapan Poetry Forum dan Penanggungjawab buletin seni-budaya CANGKIR, tinggal di Kroya, Cilacap.

Email : This e-mail address is being protected from spambots, you need JavaScript enabled to view it