KESUGIHAN, (CIMED) – Musisi di Cilacap berani tampil beda, jika biasanya pertunjukan sebuah musik hanya terpusat di wilayah perkotaan, kali ini memilih tempat di luar pusat kota dengan tujuan mendukung pemerataan akses seni. Pertunjukan musik yang tak biasa ini bakal digelar di Planet X Café, Desa Slarang,Kecamatan Kesugihan, Cilacap. Pertunjukan resital musik ini bertajuk “Epilog di Zona E-Nol”. Ini adalah resital musik kontemporer yang unik, perpaduan antara musik, tari, narasi digital, tata cahaya, dan koreografi dalam sajian teatrikal yang menggugah pemikiran.
Konseptor acara, Eko Slamet Riyadi, menjelaskan bahwa ‘Zona E-Nol’ adalah simbol transisi. Dalam sejarah bangsa, selalu ada titik nol sebuah peristiwa penting yang menandai perubahan zaman. Dari era Majapahit hingga Indonesia modern, setiap pergeseran lahir dari momen-momen besar yang melibatkan generasi pada zamannya.
“Resital ini mengajak kita untuk berpikir, terutama generasi muda, bahwa mereka adalah bagian dari proses sejarah. Bukan hanya menikmati zaman digital, tapi juga paham akan akar budayanya,” jelas Eko dalam konferensi pers di Planet X, Desa Slarang, Kecamatan Kesugihan, Cilacap, Selasa (10/6/2025).
Resital ini menampilkan empat karya orisinal dan empat karya re-aransemen yang merepresentasikan narasi teatrikal menjadi sebuah seni pertunjukan atas perjalanan peradaban dan refleksi kebangsaan.
“Pertujunkan Resital Epilog di Zona E-Nol akan diselenggarakan di Planet X Cafe,Desa Slarang pada Sabtu, 14 Juni 2025 malam mulai pukul 19.00 WIB,” katanya.
Meleburkan Seni dan Pendidikan
Yang membedakan “Epilog di Zona E-Nol” dari resital musik biasa adalah keterlibatan aktif dari anak-anak usia dini hingga remaja. Penampil terdiri dari siswa TK, SD, hingga SMP—di antaranya adalah ansambel campuran dari SMP Negeri 3 Kesugihan dan SMP Islam Al-Irsyad, kelompok kids solo piano dari kelas 2 SD, serta kelompok vokal dan musik dari siswa kelas 7 dan 8.
Disebutkan, salah satu penampil muda, kelompok we4U, yang terdiri dari siswi kelas 7 dan 8, membawakan karya-karya dengan kualitas yang mengejutkan untuk usia mereka.
“Mereka tak hanya bermain musik, tapi belajar berpikir kritis—secara halus dan terukur,” ungkap musisi yang telah malang melintang di Bali ini.
Baginya, pendidikan seni tidak boleh terjebak dalam eksklusivitas akademik.
“Ketika lulusan musik masuk ke masyarakat, seringkali terjadi degradasi makna. Padahal, lewat musik klasik misalnya, kita bisa belajar sejarah, kritik sosial, bahkan spiritualitas,” tandasnya.
Ditambahkan, generasi muda adalah “anak panah” di Zona E-Nol, yang mampu menjadi mercusuar kebangsaan di panggung global. Namun, potensi mereka hanya akan terwujud jika didukung oleh literasi yang jujur, kajian tanpa rekayasa, dan sikap ikhlas dari generasi ebelumnya untuk memahami ara berfikir dan Bahasa mereka.
Seni sebagai Refleksi dan Kritik
Perupa sekaligus musisi yang terlibat dalam pertunjukan resital ini menyampaikan, Zona E-Nol adalah ruang kebebasan berfikir termasuk kritik baik kepada pemerintah, diri sendiri atau bahkan kepada Tuhan.
“Ini adalah ruang peralhan dai era analog ke digital,mencerminkan transforasi sosial, budaya dan ekonomi yang dipercepat oleh pandemi global. Musik dan seni adalah jalan lembut untuk menggugah kesadaran,” ujar Daryono.
Khaerudin, selaku owner Planet X Café sekaligus tuan rumah pertunjukan resital musik “Epilog di Zona E-Nol” mengapresiasi penuh terhadap pertunjukan ini.
“Nol adalah awal dari sesuatu yang besar. Dari titik ini, generasi muda diajak membayangkan masa depan dengan kesadaran sejarah dan keberanian menafsirkan ulang realitas,” ungkapnya.
Dengan karya-karya yang diciptakan dan diaransemen sendiri oleh musisi lokal, “Epilog di Zona E-Nol” tidak hanya menjadi panggung pertunjukan seni, tetapi juga laboratorium gagasan untuk generasi Z agar siap menyambut perubahan dengan akal cerdas dan hati yang terbuka. (*)





















